Menurut Kantor Berita ABNA, Kepemimpinan sidang tingkat menlu Gerakan Non Blok (GNB) Selasa pagi (28/8) secara resmi diserahkan Mesir kepada Republik Islam Iran. Ramzy Ezzeldin Ramzy, penjabat menteri luar negeri Mesir di awal sidang tingkat menlu GNB di pidatonya menyampaikan penghargaannya kepada Iran karena persiapan memuaskan KTT GNB. Ia pun kemudian menyerahkan pimpinan sidang kepada Menteri Luar Negeri Iran, Ali Akbar Salehi. Ali Akbar Salehi di pidatonya juga menyampaikan penghargaannya atas usaha Mesir selama menjabat ketua periodik GNB. Dikatakannya, deklarasi sidang Tehran harus mengapresiasi kepentingan seluruh negara dan menjadi peluang bagi setiap anggota untuk menggapai kepentingannya. Selain itu, menurut Salehi deklarasi sidang Tehran juga harus mengusung kepentingan negara-negara selatan. Dalam kesempatan tersebut, Menlu Salehi menjelaskan kendala dan kesulitan dewasa ini lebih rumit dari era perang dingin. Dikatakan Salehi bahwa saat ini kita tengah menghadapi efek dari globalisasi. Ia juga mengingatkan pentingnya isu pembangunan yang permanen. Dijelaskan Salehi bahwa setiap peluang yang ada harus dimanfaatkan semaksimal mungkin sehingga sisi kolektif dapat ditekankan. Di kesempatan seperti ini menurut menlu Iran bahwa GNB telah menemukan posisinya. Menurut keyakinan mayoritas pengamat politik, Tehran sebagai tuan rumah KTT GNB ke 16 dan peralihan kepemimpinan gerakan ini selama tiga tahun mendatang dari Mesir ke Iran telah membuka kesempatan yang sangat besar sehingga gerakan ini setelah beberapa dekade dapat menetapkan prospek baru kedepan dengan lebih akurat. KTT GNB Tehran yang digelar di kondisi yang cukup sensitif tercatat sebagai sidang gerakan ini yang paling penting sejak terbentuk. Dengan demikian diharapkan negara anggota mampu memahami sensitifitas ini dan membawa GNB untuk dapat berkiprah lebih aktif di konstelasi dunia. Republik Islam Iran sebagai ketua periodik baru GNB akan berusaha mempersiapkan terbentukanya piagam yang sangat efektif bagi gerakan ini dengan harapan mampu menggenjot peran GNB di kancah internasional. Gerakan Non Blok dengan 120 negara anggota tercatat sebagai gerakan terbesar dunia setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dengan demikian KTT GNB ke 16 di Tehran yang digelar dalam kondisi cukup sensitif diharapkan mampu merealisasikan dan mengaktifkan misi-misi gerakan ini. Misi ini mencakup masalah makro dunia internasional yang berasaskan penolakan terhadap imperialisme dan ketidakadilan di hubungan internasional, pembangunan yang permanen dan pemanfaatkan kesempatan ekonomi di tengah globalisasi serta melawan ancaman keamanan dan nuklir. Tujuan dan misi lain GNB adalah memberantas diskriminasi, menghormati hak berbagai bangsa khususnya hak bangsa Palestina, menciptakan keseimbangan kekuasaan di organ-organ PBB dengan poros peran langsung GNB di Dewan Keamanan. Berbagai tujuan tersebut mendapat perhatian serius Republik Islam Iran. Tuntutan yang bersifat prinsip ini sangat ditekankan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Ali Akbar Salehi dalam pidatonya di sidang tingkat menlu GNB hari Selasa (28/8) di Tehran. Tak diragukan lagi langkah-langkah kolektif akan lebih efiktif dalam menggapai tujuan dan misi Gerakan Non Blok. Menurut Kantor Berita ABNA, Surat Kabar Zionis The Jerusalem Post menyebutkan pembukaan KTT GNB di Tehran menunjukkan kegagalan blok Barat untuk menyisihkan Iran. Surat kabar ini menyatakan, "Teheran hari ini melangsungkan konferensi tingkat tinggi negara-negara Non Blok. Iran dengan berbesar hati telah menerima 120 orang dari negara-negara di mana hal ini menunjukkan Washington gagal untuk menyisihkan negara ini." 80 negara hadir dalam persidangan peringkat menteri dan pegawai tinggi sedangkan Israel dan Amerika Serikat berusaha keras menghalangi konferensi tersebut berjalan sukses. Antara halangan yang diusahakan adalah meminta beberapa pemimpin untuk tidak menghadiri konferensi tersebut. Namun segala usaha tersebut tidak membuahkan hasil karena beberapa tokoh penting seperti Sekjen PBB Ban Ki Moon dan Presiden Mesir Muhammad Mursi juga menyatakan diri akan menghadiri konferensi GNB tersebut. Benjamin Netanyahu dan Victoria Nuland di pihak Tel Aviv dan Washington sudah berusaha untuk menghalangi kedua tokoh tersebut untuk menghadiri konferensi namun gagal.
28 Agustus 2012 - 19:30
Kode berita: 341168
Menurut keyakinan mayoritas pengamat politik, Tehran sebagai tuan rumah KTT GNB ke 16 dan peralihan kepemimpinan gerakan ini selama tiga tahun mendatang dari Mesir ke Iran telah membuka kesempatan yang sangat besar sehingga gerakan ini setelah beberapa dekade dapat menetapkan prospek baru kedepan dengan lebih akurat.